Kamis, 11 November 2010

MASALAH PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DAN KOGNITIF ANAK

MASALAH PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DAN KOGNITIF ANAK

Pola Perkembangan Psikososial Dan Kognitif Anak

Proses perkembangan anak hingga usia sekolah, yang mendeskripsikan ciri-ciri “normal” (adaptif) atau “menyimpang” (maladaptif) dengan menggunakan dasar-dasar teori perkembangan psikososial dan kognitif.
v  Tugas/kebutuhan perkembangan: Usia 0-2 tahun
·         Homeostasis.
·         Diferensisasi somatopsikologik (sensorimotor).
·         Dependency, safety & security.
·         Attachment-mutual recognition.
Kemampuan anak yang adaptif:
Keseimbangan regulasi internal (fisiologik, sensitivitas responsivitas). Respons Afektif-Interaktif yang multi-Sistim Contigent terhadap pengasuh. Kemampuan  Sensomotorik   semakin   berkembang   &  bertujuan (diferensiasi persona, benda, gerak).
Lingkungan yang adaptif:
Sikap keterlibatan yang menyenangkan penuh harapan, dedikasi, protektif, sayang. Merangsang  interaksi  yang  melibatkan  semua  sistim  (sensori-motor-afektif). Responsif dan prediktif terhadap signal-signal komunikasi anak.
Kemampuan anak yang maladaptif:
·         Regulasi  internal  yang  kacau,  fisiologi  tubuh  tidak  menentu, mudah terangsang secara berlebihan (hyperexcitable).
·         Menarik diri, apatis.
·         Tidak ada keterlibatan/respons afektif/ motorik dengan orang lain.
·         Kemampuan sensomotorik tidak harmonis.
·         Lingkungan yang maladaptif:
·         Kacau, berbahaya, abusive
·         Hiper / hipostimulatif
·         Hubungan/interaksi personal yang dingin, jauh, ambivalen,hostil
·         Tidak komunikatif, tidak sensitif/ menyalahartikan signal-signal komunikasi anak.


v  Tugas / kebutuhan perkembangan Usia 2-6 tahun:
·         Meningkatkan integrasi & koordinasi, diferensiasi sensomotorik.
·         Mengembangkan otonomi & inisiatif.
·         Meningkatkan diferensiasi representasi simbolik dunia objek dan peristiwa (bahasa, imajinasi, fantasi). – Sifat egosentrik menjadi kebersamaan yang terbatas.
Kemampuan anak yang adaptif:
·         Kemampuan sensomotorik yang lebih kompleks, terintegrasi dan inovatif.
·         Keras kepala, oposisional.
·         Banyak bertanya, banyak ide & fantasi.
·         Perhatian besar pada dunia dongeng.
·         Bermain simbolik-imitatif (pretend play).
·         Interaksi afektif interpersonal meningkat.
·         Bermain, melakukan kegiatan bersama masih terbatas.
Lingkungan yang adaptif:
·         Mengagumi otonomi & inisiatif anak.
·         Toleran, Tegas tapi Suportif, Tut Wuri Handayani.
·         Kesiapan emosional menghadapi fluktuasi progresi-regresi anak.
·         Membantu   anak   menghadapi   realitas   “law   &   order”   dalam kehidupan.
Kemampuan anak yang maladatif:
·         Pola perilaku dan Afek yang tidak sesuai/serasi, sempit, kaku, stereotipik.
·         Menarik diri, terlalu pasif, penurut.
·         Kelengketan pada pengasuh cemas berpisah.
·         Hiperagresif, fluktuasi afek yang kacau.
·         Tidak komunikatif, kurang kontak dengan orang lain disekitarnya.
·         Lingkungan yang maladaptif:
·         Terlalu  intrusif,  mengatur,  melarang/mengekang  inkonsisten, punitif.
·         Terlalu menuntut anak diluar kemampuannya.
·         Terlalu kawatir dan takut pada otonomi anak.
·         Menghambat otonomi & inisiatif anak.
·         Sangat  membatasi  imajinasi,  bermain,  berhubungan  dengan orang lain



v  Tugas dan kebutuhan perkembangan Usia 6-12 tahun.:
·         Pengoperasian  sistim  representasional  simbolik  yang  lebih kompleks.
·         Task Completion Ability.
·         Meningkatkan   differensiasi   pelbagai   kegiatan/tugas   yang berhasil karya.
·         Meningkatkan hubungan interpersonal yang bermakna dan luas dengan orang lain (companionship, sharing).
Kemampuan anak yang adaptif
·         Mampu menyelesaikan tugas secara operasional dan tuntas.
·         Perhatian/daya tarik pada diferensiasi tugas/kegiatan yang lebih luas.
·         Mampu membedakan imagery dan realitas.
·         Kagum pada idola diluar orang tua.
·         Keinginan berteman (hubungan teman sebaya).
·         Lebih mampu untuk menunda pemuasan segera.
Lingkungan yang adaptif:
·         Membantu, mendorong anak memperluas diferensiasi representasi simbolik.
·         Mendorong anak untuk asertif dan ekspresif.
·         Membantu anak memantapkan norma-norma sosial (”law & order”).
·         Mendorong dan membantu anak dalam pelbagai “experimentasi” yang sesuai fase perkembangan (ketrampilan skolastik dan extraskolastik, teknologi, hubungan interpersonal).
Kemampuan anak yang maladaptif:
·         Tidak didapatkan elaborasi representasi simbolik
·         Kemampuan operasional tidak berkembang baik
·         Masalah dalam mengikuti pelajaran sekolah
·         “Sense of Self” tidak terdiferensiasi, sempit, kaku
·         Egosentrik dalam hubungan dengan orang lain
·         Hubungan afektif dangkal, menarik diri, tidak ada ketertarikan pada hubungan teman sebaya
·         Tidak tertarikpada kegiatan-kegiatan yang bervariasi
·         Masalah dalam kemandirian yang sesuai fase anak



AUTIS
Ø  Definisi
Adanya penyimpangan dari perkembangan psikososial seperti bisa dilihat jelas pada bayi autis." Tentunya gejala-gejala autis bukan cuma itu. Makin usianya bertambah, ia tak bisa berinteraksi. "Dari segi kuantitas dan kualitas, interaksinya menurun dengan orang sekitarnya, juga tak ada perhatiannya terhadap lingkungan."
Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan , angka kejadian di seluruh dunia terus meningkat. KASUS penyakit autis saat ini semakin banyak terjadi di dunia, termasuk di Indonesia. Saat ini penyakit autis sudah dapat dideteksi sejak usia dini. Meski demikian, pengetahuan awam mengenai autis dan bagaimana menanganinya masih belum diketahui luas.
Autisme adalah suatu gangguan yang ditandai oleh melemahnya kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara. Autisme sering disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD).
Autisnya infantil atau terjadi sejak bayi, tentunya tak lagi dalam taraf ringan. Pada bayi, autis bisa dideteksi dari perkembangan sosial dan emosionalnya. "Bayi yang mengalami penyakit autisma, sosial emosinya tak berkembang dan tak berjalan semestinya. Dengan kata lain, mengalami distorsi atau penyimpangan perkembangan yang sangat menyeluruh." Hal ini bisa dilihat, misal, ketika si ibu menyusui ASI. Bila pada bayi normal, kala disusui akan langsung menempelkan tubuhnya ke dada si ibu dan sambil disusui menatap sang ibu sebagai tanda adanya attach atau kelekatan emosional dengan ibunya. "Jadi, ada insting melekat pada ibu. Lagi pula otak anak merekam bagaimana kedekatan dia dengan ibunya sejak dalam rahim."
Pada bayi yang autis, saat disusui oleh ibu, tubuhnya akan kaku. Meski ia mengisap, karena memang ada insting lapar pada bayi, tapi secara emosi tak ada kelekatan dengan ibu. "Yang bisa merasakan seperti ini adalah ibunya sendiri. Hingga seringkali si ibu akan merasa seperti memeluk benda, entah guling, sebatang kayu atau bungkusan. Jadi, tak ada hubungan sosial emosinya." Begitupun bila bayi ditelentangkan, misal. Normalnya, usia beberapa minggu bayi akan spontan tersenyum meski tak kita apa-apakan.
Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.
Ø  Gejala – gejala pada autisme
Gejala – gejala pada autisme mencakup ganggguan pada :
1.         Gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal
·         Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
·         Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet
·         Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
·         Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
·         Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian , nada , maupun kata – katanya tanpa mengerti artinya
·         Kadang bicara monoton seperti robot
·         Mimik muka datar
·         Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat
2.         Gangguan pada bidang interaksi sosial
·         Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
·         anak mengalami ketulian
·         Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
·         Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang
·         Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
·         Bila didekati untuk bermain justru menjauh
·         Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
·         Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun
·         Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya
3.      Gangguan pada bidang perilaku dan bermain
·         Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang sampai berjam – jam
·         Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh
·         Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar
·         Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana
·         Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak
·         Perilaku ritualistik sering terjadi
·         Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat – lompat, berputar – putar, memukul benda berulang – ulang
·         Dapat juga anak terlalu diam
4.        Gangguan pada bidang perasaan dan emosi
·         Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
·         Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
·         Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif
5.        Gangguan dalam persepsi sensoris
·         Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
·         Bila mendengar suara keras langsung menutup mata
·         Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan
·         Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu.
Ø  Penyebab Autis
Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.
Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah : Genetik (heriditer), teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin
Ø  Manifestasi Klinis Dan Diagnosis
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.
Gangguan dalam persepsi sensoris meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Meraskan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.
Diagnosis Autis hanyalah melalui diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium. Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan DSM-IV. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autis yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.


Ø  Pencegahan
Tindakan pencegahan adalah yang paling utama dalam menghindari resiko terjadinya gangguan atau gangguan pada organ tubuh kita. Banyak gangguan dapat dilakukan strategi pencegahan dengan baik, karena faktor etiologi dan faktor resiko dapat diketahui dengan jelas. Berbeda dengan kelainan autis, karena teori penyebab dan faktor resiko belum masih belum jelas maka strategi pencegahan mungkin tidak bisa dilakukan secara optimal. Dalam kondisi seperti ini upaya pencegahan tampaknya hanya bertujuan agar gangguan perilaku yang terjadi tidak semakin parah bukan untuk mencegah terjadinya autis. Upaya pencegahan tersebut berdasarkan teori penyebab ataupun penelitian faktor resiko autis.
Pencegahan ini dapat dilakukan sedini mungkin sejak merencanakan kehamilan, saat kehamilan, persalinan dan periode usia anak.


ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN KEPERAWATAN DITINJAU DARI KEPERAWATAN ANAK
Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac, A (2005) dan Townsend, M.C (1998) antara lain:
·         Tidak suka dipegang
·         Rutinitas yang berulang
·         Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan
·         Terpaku pada benda mati
·         Sulit berbahasa dan berbicara
·         50% diantaranya mengalami retardasi mental
·         Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri dengan orang lain
·         Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain
·         Ketidakmampuan untuk membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan orang lain
·         Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang diucapkan orang lain atau gerakkan-gerakkan mimik orang lain
·         Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan stuktur gramatis, ekolali, pembalikan pengucapan, ketidakmampun untuk menamai benda-benda, ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak, tidak adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata, sifat responsif pada wajah, gerak isyarat.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Townsend, M.C (1998) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada pasien/anak dengan gangguan perkembangan pervasive autisme antara lain:
·         Risiko tinggi terhadap mutilasi diri berhubungan dengan:
1.      Tugas-tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dari rasa percaya terhadap rasa tidak percaya
2.      Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
3.      Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu, fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberkulosa sclerosis, anoksia selama kelahiran dan sindroma fragilis X
4.      Deprivasi ibu
5.      Stimulasi sensosrik yang tidak sesuai
6.      Sejarah perilaku-perilaku mutilatif/melukai diri sebagai respons terhadap ansietas yang meningkat
7.      Ketidakacuhan yang nyata terhadap lingkungan atau reaksi-reaksi yang histeris terhadap perubahan-perubahan pada lingkungan
·         Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan:
1.      Gangguan konsep diri
2.      Tidak adanya orang terdekat
3.      Tugas perkembangan tidak terselsaikan dari percaya versus tidak percaya
4.      Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X)
5.      Deprivasi ibu
6.      Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
·         Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan:
1.  Ketidakmampuan untuk mempercayai
2.  Penarikan diri dari diri
3.  Perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X)
4.  Deprivasi ibu
5.  Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
·         Gangguan identitas diri/pribadi berhubungan dengan:
1.      Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
2.      Tugas-tugas tidak terselesaikan dari rasa percaya versus rasa tidak percaya
3.      Deprivasi ihu
4.      Stimulasi sensorik yang tidak sesuai

PERENCANAAN DAN RASIONALISASI
Menurut Townsend, M.C (1998) perencanaan dan rasionalisasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan pervasife autisme antara lain:
Resiko terhadap mutilasi diri
Tujuan: Pasien akan mendemonstrasikan perilaku-perilaku alternative (misalnya memulai interaksi antara diri dengan perawat) sebagai respons terhadap kecemasan dengan criteria hasil:
1.      Rasa gelisah dipertahankan pada tingkat anak merasa tidak memerlukan perilaku-perilaku mutilatif diri
2.      Pasien memulai interaksi antara diri dan perawat apabila merasa cemas
Intervensi
1.      Jamin keselamatan anak dengan memberi rasa aman, lingkungan yang kondusif untuk mencegah perilaku merusak diri, Rasional: Perawat bertanggun jawab untuk menjamin keselamatan anak)
2.      Kaji dan tentukan penyebab perilaku – perilaku mutilatif sebagai respon terhadap kecemasan, Rasional : pengkajian kemungkinan penyebab dapat memilih cara /alternative pemecahan yang tepat
3.      Pakaikan helm pada anak untuk menghindari trauma saat anak memukul-mukul kepala, sarung tangan untuk mencegah menarik – narik rambut, pemberian bantal yang sesuai untuk mencegah luka pada ekstremitas saat gerakan-gerakan histeris, Rasional : Untuk menjaga bagian-bagian vital dari cidera
4.      Untuk membentuk kepercayaan satu anak dirawat oleh satu perawat, Rasional : Untuk dapat bisa lebih menjalin hubungan saling percaya dengan pasien
5.      Tawarkan pada anak untuk menemani selama waktu - waktu mening-katnya kecemasan agar tidak terjadi mutilasi, Rasional :Dalam upaya untuk menurunkan kebutuhan pada perilaku-perilaku mutilasi diri dan memberikan rasa aman
Kerusakan interaksi sosial
Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan yang ditandai dengan sikap responsive pada wajah dan kontak mata dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil:
1.      Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain
2.      Pasien menggunakan kontak mata, sifat responsive pada wajah dan perilaku-perilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi dengan orang lain
3.      Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain
Intervensi
1.      Jalin hubungan satu – satu dengan anak untuk meningkatkan keper-cayaan, Rasional : Interaksi staf dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan
2.      Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya: mainan kesukaan, selimut) untuk memberikan rasa aman dalam waktu-waktu tertentu agar anak tidak mengalami distress, Rasional : Benda-benda ini memberikan rasa aman dalam waktu-waktu aman bila anak merasa distress
3.      Sampaikan sikap yang hangat, dukungan, dan kebersediaan ketika anak berusaha untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya, Rasional: Karakteristik-karakteritik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya
4.      Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan memaksakan interaksi-interaksi, mulai dengan penguatan yang positif pada kontak mata, perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan sentuhan, senyuman , dan pelukan, Rasional : Pasien autisme dapat merasa terncam oleh suatu rangsangan yang gencar pada pasien yang tidak terbiasa
5.      Dengan kehadiran anda beri dukungan pada pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubungan dengan orang lain dilingkungannya, Rasional :Kehadiran seorang yang telah terbentuk hubungan saling percaya dapat memberikan rasa aman

Kerusakan komunikasi verbal
Tujuan : Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan ditandai dengan sikap responsive dan kontak mata dalam waktu yang telah ditentukan dengan kriteria hasil:
·         Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain
·         Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal
·         Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain
Intervensi
1.      Pertahankan konsistensi tugas staf untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi anak, Rasional: Hal ini memudahkan kepercayaan dan kemampuan untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi pasien
2.      Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan anak sampai kepuasan pola komunikasi terbentuk, Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan dapat mengurangi kecemasan anak sehingga anak akan dapat mulai menjalin komunikasi dengan orang lain dengan asertif
3.      Gunakan tehnik validasi konsensual dan klarifikasi untuk menguraikan kode pola komunikasi ( misalnya :" Apakah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa…..?", Rasional: Teknik-teknik ini digunakan untuk memastikan akurasi dari pesan yang diterima, menjelaskan pengertian-pengertian yang tersembunyi di dalam pesan. Hati-hati untuk tidak "berbicara atas nama pasien tanpa seinzinnya"
4.      Gunakan pendekatan tatap muka berhadapan untuk menyampaikan ekspresi-ekspresi nonverbal yang benar dengan menggunakan contoh, Rasional: Kontak mata mengekspresikan minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang

Gangguan Indentitas Pribadi
Tujuan: Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri dan bagian-bagian tubuh dari pemberi perawatan dalam waktu yang ditentukan untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang lain saat pulang dengan kriteria hasil:
·         Pasien mampu untuk membedakan bagian-bagian dari tubuhnya dengan bagian-bagian dari tubuh orang lain
·         Pasien menceritakan kemampuan untuk memisahkan diri dari lingkungannya dengan menghentikan ekolalia (mengulangi kata-kata yang di dengar) dan ekopraksia (meniru gerakan-gerakan yang dilihatnya)
·         Intervensi:
1.      Fungsi pada hubungan satu-satu dengan anak. Rasional : Interaksi pasien staf meningkatkan pembentukan data kepercayaan
2.      Membantu anak untuk mengetahui hal-hal yang terpisah selama kegiatan-kegiatan perawatan diri, seperti berpakaian dan makan. Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anda terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain
3.      Jelaskan dan bantu anak dalam menyebutkan bagian-bagian tubuhnya. Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anak terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain
4.      Tingkatkan kontak fisik secara bertahap demi tahap, menggunakan sentuhan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan antara pasien dengan perawat. Berhati-hati dengans entuhan sampai kepercayaan anak telah terbentuk. Rasional: Bila gerak isyarat ini dapat diintepretasikan sebagai suatu ancaman oleh pasien
5.      Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari bagian-bagian dari batas-batas tubuh dengan menggunakan cermin dan lukisan serta gambar-gambar dari anak. Rasional: Dapat memberikan gambaran tentang bentuk tubuh dan gambaran diri pada anak.

HIPERAKTIFITAS

A.    Pengertian

Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan perhatian menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-anak, yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas, hiperkinesis, kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal. (Nelson, 1994)

B.     Etiologi

Pandangan-pandangan serta pendapat–pendapat mengenai asal usul, gambaran–gambaran, bahkan mengenai realitas daripada gangguan ini masih berbeda–beda serta dipertentangkan satu sama lainnya. Beberapa orang berkeyakinan bahwa gangguan tersebut mungkin sekali timbul sebagai akibat dari gangguan–gangguan di dalam neurokimia atau neurofisiologi susunan syaraf pusat. Istilah gangguan kekurangan perhatian merujuk kepada apa yang oleh banyak orang diyakini sebagai gangguan yang utamanya. Sindroma tersebut diduga disebabkan oleh faktor genetik, pembuahan ataupun racun, bahaya–bahaya yang diakibatkan terjadinya prematuritas atau immaturitas, maupun rudapaksa, anoksia atau penyulit kelahiran lainnya.
Telah dilakukan pula pemeriksaan tentang temperamen sebagai kemungkinan merupakan faktor yang  mempermudah timbulnya gangguan tersebut, sebagaimana halnya dengan praktek pendidikan serta perawatan anak dan kesulitan emosional di dalam interaksi orang tua anak yang bersangkutan. Sampai sekarang tidak ada satu atau beberapa faktor penyebab pasti yang tidak dapat diperlihatkan.

C.    Patofisiologi

Kurang konsentrasi/gangguan hiperaktivitas ditandai dengan gangguan konsentrasi, sifat impulsif, dan hiperaktivitas. Tidak terdapat bukti yang meyakinkan tentang sesuatu mekanisme patofisiologi ataupun gangguan biokimiawi. Anak pria yang hiperaktiv, yang berusia antara 6 – 9 tahun serta yang mempunyai IQ yang sedang, yang telah memberikan tanggapan yang baik terhadap pengobatan–pengobatan stimulan, memperlihatkan derajat perangsangan yang rendah (a low level of arousal) di dalam susunan syaraf pusat mereka, sebelum pengobatan tersebut dilaksanakan, sebagaimana yang berhasil diukur dengan mempergunakan elektroensefalografi, potensial–potensial yang diakibatkan secara auditorik serta sifat penghantaran kulit. Anak pria ini mempunyai skor tinggi untuk kegelisahan, mudahnya perhatian mereka dialihkan, lingkup perhatian mereka yang buruk serta impulsivitas. Dengan 3 minggu pengobatan serta perawatan, maka angka–angka laboratorik menjadi lebih mendekati normal serta penilaian yang diberikan oleh para guru mereka memperlihatkan tingkah laku yang lebih baik.

D.    Manifestasi Klinik

Ukuran objektif tidak memperlihatkan bahwa anak yang terkena gangguan ini memperlihatkan aktifitas fisik yang lebih banyak, jika dibandingkan dengan anak–anak kontrol yang normal, tetapi gerakan–gerakan yang mereka lakukan kelihatan lebih kurang bertujuan serta mereka selalu gelisah dan resah. Mereka mempunyai rentang perhatian yang pendek, mudah dialihkan serta bersifat impulsif dan mereka cenderung untuk bertindak tanpa mempertimbangkan atau merenungkan akibat tindakan tersebut. Mereka mempunyai toleransi yang rendah terhadap perasaan frustasi dan secara emosional mereka adalah orang–orang yang labil serta mudah terangsang. Suasana perasaan hati mereka cenderung untuk bersifat netral atau pertenangan, mereka kerap kali berkelompok, tetapi secara sosial mereka bersikap kaku. Beberapa orang di antara mereka bersikap bermusuhan dan negatif, tetapi ciri ini sering terjadi secara sekunder terhadap permasalahan–permasalahan psikososial yang mereka alami. Beberapa orang lainnya sangat bergantung secara berlebih–lebihan, namun yang lain lagi bersikap begitu bebas dan merdeka, sehingga kelihatan sembrono.
Kesulitan-kesulitan emosional dan tingkah laku lazim ditemukan dan biasanya sekunder terhadap pengaruh sosial  yang negatif dari tingkah laku mereka. Anak-anak ini akan menerima celaan dan hukuman dari orang tua serta guru dan pengasingan sosial oleh orang-orang yang sebaya dengan mereka. Secara kronik mereka mengalami kegagalan di dalam tugas-tugas akademik mereka dan banyak diantara mereka tidak cukup terkoordinasi serta cukup mampu mengendalikan diri sendiri untuk dapat berhasil di dalam bidang olah raga. Mereka mempunyai gambaran mengenai diri mereka sendiri yang buruk serta mempunyai rasa harga diri yang rendah dan kerap kali mengalami depresi. Terdapat angka kejadian tinggi mengenai ketidakmampuan belajar membaca matematika, mengeja serta tulis tangan. Prestasi akademik mereka dapat tertinggal 1 – 2 tahun dan lebih sedikit daripada yang sesunguhnya diharapkan dari kecerdasan mereka yang diukur.

E.     Pemeriksaan Penunjang

Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang akan menegakkan diagnosis gangguan kekurangan perhatian. Anak yang mengalami hiperaktivitas dilaporkan memperlihatkan jumlah gelombang-gelombang lambat yang bertambah banyak pada elektorensefalogram mereka, tanpa disertai dengan adanya bukti tentang penyakit neurologik atau epilepsi yang progresif, tetapi penemuan ini mempunyai makna yang tidak pasti. Suatu EEG yang dianalisis oleh komputer akan dapat membantu di dalam melakukan penilaian tentang ketidakmampuan belajar pada anak itu.

F.     Komplikasi

Diagnosis sekunder- gangguan konduksi, depresi dan penyakit ansietas.
Pencapaian akademik kurang, gagal di sekolah, sulit membaca dan mengerjakan aritmatika (sering kali akibat abnormalitas konsentrasi).
Hubungan dengan teman sebaya buruk (sering kali akibat perilaku agresif dan kata-kata yang diungkapkan).

G.    Penatalaksanaan Medis

Rencana pengobatan bagi anak dengan gangguan ini terdiri atas penggunaan psikostimulan, modifikasi perilaku, pendidikan orang tua, dan konseling keluarga. Orang tua mungkin mengutarakan kekhawatirannya tentang penggunaan obat. Resiko dan keuntungan dari obat harus dijelaskan pada orang tua, termasuk pencegahan skolastik dan gangguan sosial  yang terus menerus karena pengunaan obat-obat psikostimulan. Rating scale Conners dapat digunakan sebagai dasar pengobatan dan untuk memantau efektifitas dari pengobatan. Psikostimulan- metilfenidat (Ritalin), amfetamin sulfat (Benzedrine), dan dekstroamfetamin sulfat (Dexedrine)- dapat memperbaiki rentang perhatian dan konsentrasi anak dengan meningkatkan efek paradoksikal pada kebanyakan anak dan sebagian orang dewasa yang menderita gangguan ini.

PROSES KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
1.      Kaji riwayat keluarga melalui wawancara atau genogram.
Data yang dapat diperoleh apakah anak tersebut lahir premature, berat badan lahir rendah, anoksia, penyulit kehamilan lainnyan atau ada faktor genetik yang diduga sebagai penyebab dari gangguan hiperaktivitas pada anak.
2.      Kaji riwayat perilaku anak.
·         Riwayat perkembangan, dimana dulu seorang bayi yang gesit, aktif dan banyak menuntut, yang mempunyai tanggapan – tanggapan yang mendalam dan kuat, dengan disertai kesulitan – kesulitan makan dan tidur, kerap kali pada bulan – bulan pertama kehidupannya, sukar untuk menjadi tenang pada waktu akan tidur serta lambat untuk membentuk irama diurnal. Kolik dilaporkan agak umum terjadi pada mereka.
·         Laporan guru tentang permasalahan – permasalahan akademis serta tingkah laku di dalam kelas.

B.     Diagnosa Keperawatan

·         Kerusakan interaksi sosial
·         Gangguan konsep diri
·         Resiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif
·         Resiko tinggi perubahan peran menjadi orang tua
·         Resiko tinggi kekerasan
·         Resiko tinggi mencederai diri sendiri


C.    Perencanaan
Intervensi keperawatan umumnya diimplementasikan pada pasien rawat jalan dan komunitas.
1.      Bantu orang tua dalam mengimplementasikan program perilaku agar mencakup penguatan yang positif.
©      Latih kefokusan anak
Jangan tekan anak, terima keadaannya. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajak untuk duduk dan diam. Mintalah agar anak menatap mata anda ketika bicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada lembut.
©      Telatenlah
Jika anak telah betah untuk duduklebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik – titik yang membentuk angka atau huruf. Selanjutnya anak diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka di bawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.
©      Bangkitkan kepercayaan diri anak
Gunakan teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.
©      Kenali arah minatnya
Jika anak bergerak terus jangan panik, ikutkan saja dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan keaktifan dari anak. Yang paling penting adalah mengenali bakat anak secara dini.
©      Minta anak bicara
Anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisasi. Karena itu Bantu anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai – nilai apa saja yang diterima di kelompoknya.
2.      Sediakan struktur kegiatan harian
Anak hendaknya mempunyai daftar kegiatan harian yang berjalan dengan teratur menurut jadwal yang ditetapkan dan hendaknya segera mengikuti serta melaksanakan kegiatan rutinnya itu, sebagaimana iharkn dari dirinya dan untuk itu anak dihadiahi kata – kata pujian.
Perangsangan yang berlebihan serta kelelahan yang sangat hebat hendaknya dihindarkan. Anak membutuhkan saat santai setelah bermain, terutama setelah ia melakukan kegiatan fisik yang kuat dan keras. Periode sebelum tidur harus merupakan masa tenang, dengan cara menghindarkan acara televisi yang merangsang, permainan yang keras dan jungkir balik.
3.      Beri obat stimulans sesuai instruksi.
a.       Stimulans dapat dihentikan sementara pada akhir pekan dan hari libur. Di mana untuk menentukan apakah kemampuan pengendalian yang dimiliki oleh anak itu sendiri telah mengalami suatu kemajuan.
b.      Stimulans tidak diberikan sesudah pukul 3 atau 4 sore, dimana efek samping stimulans adalah insomnia. Insomnia dapat dicegah dengan tidak lagi memberikan pengobatan perangsang setelah jam 3 sore serta mengatur sedemikian rupa, sehingga periode sebelum tidur itu merupakan saat yang tenang serta tidak merangsang.

D.    Perencanaan Pemulangan (Discharge Planning) dan Perawatan di Rumah

Didik dan bantu orang tua dan anggota keluarganya.
1.      Berkolaborasi dengan guru dan libatkan orang tua. Dorong orang tua untuk menjamin bahwa guru dan perawat sekolah mengetahui tentang nama, dosis dan waktu minum obat.
2.      Pastikan bahwa anak mendapatkan evalusi dan bimbingan akademik yang diperlukan. Memasukkan anak dalam kelas pendidikan khusus sering kali diperlukan
3.      Pantau kemajuan dan respons anak terhadap pengobatan.
4.      Rujuk ke spesialis perilaku dan orang tua untuk mengembangkan dan mengimplementasikan rencana perilaku.
E.     Hasil yang Diharapkan
1.      Prestasi di sekolah meningkat, dibuktikan oleh nilai dan tugas-tugas yang diselesaikan anak.
2.      Perilaku anak semakin baik menurut penilaian guru dan orang tua.
3.      Anak menunjukkan hubungan yang positif dengan teman sebaya.
 RETARDASI MENTAL
Ø  Definisi
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.
American Association on Mental Retardation (AAMR) 1992 :
Kelemahan/ketidakmampuan kognitif muncul pada masa kanak-kanak (sbl 18 tahun) ditandai  dengan fs. kecerdasan  dibawah normal ( IQ 70-75 atau kurang), dan disertai keterbatasan lain pada sedikitnya  dua area berikut : berbicara dan berbahasa; ketrampilan merawat diri, ADL; ketrampilan sosial; penggunaan sarana masyarakat; kesehatan dan keamanan; akademik  fungsional; bekerja dan rileks, dll.
1.      Retardasi mental bukan suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan fungsi adaptif.
2.      Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. 3
Hasil bagi intelegensi (IQ = “Intelligence Quotient”) bukanlah merupakan satu-satunya patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya retardasi mental. Sebagai kriteria dapat dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja. Tingkatannya mulai dari taraf ringan, sedang sampai berat, dan sangat berat.4,5
Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :2
1.      Retardasi mental berat sekali
IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang terkena retardasi mental.
2.      Retardasi mental berat
IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang terkena retardasi mental.
3.      Retardasi mental sedang
IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang terkena retardasi mental.
4.      Retardasi mental ringan
IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah.

Ø  Etiologi
Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas sebabnya (simpleks) keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau anak-anak.4
Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu : 1,6
·         Akibat infeksi dan/atau intoksikasi.
Dalam Kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.
·         Akibat rudapaksa dan atau sebab fisik lain.
Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan dengan retardasi mental. Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan retardasi mental.
·         Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi.
Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini.
Ø  Diagnosis
Untuk mendiagnosa retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesa dari orang tua dengan teliti mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak. Bila mungkin dilakukan juga pemeriksaan psikologik, bila perlu diperiksa juga di laboratorium, diadakan evaluasi pendengaran dan bicara. Observasi psikiatrik dikerjakan untuk mengetahui adanya gangguan psikiatrik disamping retardasi mental.
Ø  Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan keadaan-sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran (umpamanya perawatan prenatal yang baik, pertolongan persalinan yang baik, kehamilan pada wanita adolesen dan diatas 40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak pada anak-anak).
Perdarahan subdural, kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu cepat, dapat dibuka dengan kraniotomi; pada mikrosefali yang kogenital, operasi tidak menolong).
Pencegahan tersier merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya disekolah luar biasa. Dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah, hiperaktif atau dektrukstif.
Konseling kepada orang tua dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan antara lain membantu mereka dalam mengatasi frustrasi oleh karena mempunyai anak dengan retardasi mental. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu dapat diberi penerangan bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat anak menjadi pandai, hanya ada obat yang dapat membantu pertukaran zat (metabolisme) sel-sel otak.

PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN :
Tanda dan gejala :
·         Mengenali  sindrom seperti adanya DW atau mikrosepali
·         Adanya kegagalan perkembangan yang merupakan indikator     RM seperti anak RM berat biasanya mengalami kegagalan perkembangan pada tahun pertama kehidupannya, terutama psikomotor; RM sedang memperlihatkan penundaan pada kemampuan bahasa dan bicara, dengan kemampuan motorik normal-lambat, biasanya terjadi pada usia 2-3 tahun; RM ringan  biasanya terjadi pada usia sekolah  dengan memperlihatkan kegagalan anak untuk mencapai kinerja yang diharapkan.
·         Gangguan neurologis yang progresif
Sedang ( IQ 35- 40 hingga 50 - 55; umur mental 3 - 7 tahun)
 Karakteristik :
·         Usia presekolah, kelambatan terlihat pada perkembangan motorik, terutama bicara, respon saat belajar dan perawatan diri.
·         Usia sekolah, dpt mempelajari komunikasi sederhana, dasar kesehatan, perilaku aman, serta ketrampilan mulai sederhana, Tdk ada kemampuan membaca dan berhitung.
·         Usia dewasa, melakukan  aktivitas latihan tertentu, berpartisipasi dlm rekreasi, dpt melakukan perjalanan sendiri ke tempat yg dikenal, tdk bisa membiayai sendiri.
Berat ( IQ 20-25 s.d. 35-40; umur mental < 3 tahun)
Karakteristik :
·          Usia prasekolah kelambatan nyata pada perkembangan motorik, kemampuan komunikasi sedikit bahkan tidak ada, bisa berespon dalam perawatan diri tingkat dasar spt makan.
·         Usia sekolah, gangguan spesifik dlm kemampuan berjalan, memahami sejumlah komunikasi/berespon, membantu bila dilatih sistematis.
·         Usia dewasa, melakukan kegiatan rutin dan aktivitas berulang, perlu arahan berkelanjutan dan protektif lingkungan, kemampuan bicara minimal, meggunakan gerak tubuh.
Sangat Berat ( IQ dibawah 20-25; umur mental seperti bayi)
 Karakteristik :
1.      Usia prasekolah retardasi mencolok, fs. Sensorimotor minimal, butuh perawatan total.
2.      Usia sekolah, kelambatan nyata di semua area perkembangan, memperlihatkan respon emosional dasar, ketrampilan latihan kaki, tangan dan rahang. Butuh pengawas pribadi. Usia mental bayi muda.
3.      Usia dewasa, mungkin bisa berjalan, butuh perawatan total, biasanya diikuti dengan kelainan fisik.
Klasifikasi menurut page :
-          Idiot (IQ dibawah 20; umur mental dibawah 3 tahun)
-          Imbisil (IQ antara 20-50, umur mental 3-7,5 tahun)
-          Moron ( IQ 50-70, umur mental 7,5-10,5 tahun)
Pemeriksaan fisik :
·         Kepala  : Mikro/makrosepali, plagiosepali (btk kepala tdk simetris)
·         Rambut : Pusar ganda, rambut jarang/tdk ada, halus, mudah putus dan cepat berubah
·         Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus, dll
·         Hidung : jembatan/punggung hidung mendatar, ukuran kecil, cuping melengkung ke atas, dll
·         Mulut : bentuk “V” yang terbalik dari bibir atas, langit-langit lebar/melengkung tinggi
·         Geligi : odontogenesis yang tdk normal
·         Telinga : keduanya letak rendah; dll
·         Muka : panjang filtrum yang bertambah, hipoplasia
·         Leher : pendek; tdk mempunyai kemampuan gerak sempurna
·         Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing, ibujari gemuk dan lebar, klinodaktil, dll
·         Dada & Abdomen : tdp beberapa putting, buncit, dll
·         Genitalia : mikropenis, testis tidak turun, dll
·         Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang & tegap/panjang kecil meruncing diujungnya, lebar, besar, gemuk
·         Muka : panjang filtrum yang bertambah, hipoplasia
·         Leher : pendek; tdk mempunyai kemampuan gerak sempurna
·         Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing, ibujari gemuk dan lebar, klinodaktil, dll
·         Dada & Abdomen : tdp beberapa putting, buncit, dll
·         Genitalia : mikropenis, testis tidak turun, dll
·         Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang & tegap/panjang kecil meruncing diujungnya, lebar, besar, gemuk
Diagnosis keperawatan :
·         Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kelainan fs. Kognitif
·         Gangguan komunikasi verbal b.d kelainan fs, kognitif
·         Risiko cedera b.d. perilaku agresif/ketidakseimbangan mobilitas fisik
·         Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan bicara /kesulitan adaptasi sosial
·         Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak RM
·         Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik/kurangnya kematangan perkembangan
·         dll
Intervensi :
1.      Kaji faktor penyebab gangguan perkembangan anak
2.      Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan anak yang optimal.
3.      Berikan perawatan yang konsisten
4.      Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
5.      Berikan intruksi berulang dan sederhana
6.      Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
7.      Dorong anak melakukan perawatan sendiri
8.      Manajemen perilaku anak yang sulit
9.      Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
10.  Ciptakan lingkungan yang aman
Intervensi :
1.      Kaji faktor penyebab gangguan perkembangan anak
2.      Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan anak yang optimal.
3.      Berikan perawatan yang konsisten
4.      Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
5.      Berikan intruksi berulang dan sederhana
6.      Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
7.      Dorong anak melakukan perawatan sendiri
8.      Manajemen perilaku anak yang sulit
9.      Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
10.  Ciptakan lingkungan yang aman
Pendidikan pada orangtua :
1.      Perkembangan anak untuk tiap tahap usia
2.      Dukung keterlibatan orangtua dalam perawatan anak
3.      Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit
4.      Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok, dll
Hasil yg diharapkan :
·         Anak berfs. Optimal sesuai tingkatannya
·         Klg dan anak mampu menggunakan koping thd tantangan karena adanya ketidakmampuan
·         Klg mampu mendapatkan sumber-sumber sarana komunitas


DOWN SYNDROME
Ø  Definisi 
Down Syndrome Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Ø  Gejala Atau Tanda-Tanda Yang Muncul
Gejala atau tanda-tanda yang muncul akibat Down syndrome dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Tanda yang paling khas pada anak yang menderita Down Syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak (Olds, London, & Ladewing, 1996).
Penderita sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).
Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar. Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics).Kelainan kromosom ini juga bisa menyebakan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease. kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat
Ø  Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down syndrome atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki resiko melahirkan anak dengan Down syndrome lebih tinggi.
Down Syndrome tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya? masih tidak diketahui pasti. Yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.
Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down syndrome atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki resiko melahirkan anak dengan Down syndrome lebih tinggi.
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain: • pemeriksaan fisik penderita, • pemeriksaan kromosom • ultrasonograpgy • ECG • echocardiogram • pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)
Ø  Penatalaksanaan
Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini.Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah.
Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. Dengan adanya Leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat. Deteksi dan Intervensi Dini Penderita "Sindroma Down"
Ø  Intervensi
Tidak difokuskan terlalu banyak pada penyusunan puzzle dan balok namun dikonsentrasikan pada keterampilan untuk menolong diri sendiri seperti berpakaian, latihan buang air, serta berbagi dengan anak-anak lain. Latihan motorik halus membantu penderita SD meningkatkan keterampilan koordinasi mata dan tangan serta sejumlah keterampilan akademik dini.   Penderita SD mempunyai kesulitan bicara. Terapi wicara mengajarkan anak-anak SD bagaimana cara berkomunikasi. Dinilai pemahaman, penggunaan bahasa, perkataan reseptif dan perkataan ekspresif, serta kejelasan bicara. Juga membantu anak-anak yang mempunyai kesulitan makan. Sejak berusia 1 tahun, dapat dimulai pengajaran untuk menjaga agar lidahnya tetap di dalam mulut dengan komunikasi verbal atau pun dengan sentuhan.
Setelah itu berilah pujian. Dengan cara-cara ini, biasanya anak sudah berhenti memcucurkan air liur pada waktu mereka berusia 4 tahun. Diperhatikan kemampuan kognitif dini seperti mencocokkan dan memilah bentuk dan warna. Keterampilan akademik dini pada akhirnya mendasari keterampilan membaca, menulis, dan mengerjakan bilangan.  Juga dilatih untuk dapat mengerjakan keterampilan yang membutuhkan konsentrasi dan menanamkan kebiasaan bekerja pada anak-anak sejak usia dini. Karena kemampuan anak-anak SD sangat bervariasi, keberhasilan di sekolah akan sangat bervariasi juga, sehingga evaluasi yang dilakukan pada anak-anak SD harus dilakukan secara individual.
Deteksi dan pengobatan secara dini penting dilakukan segera setelah lahir karena kekurangan hormon ti-roid pada masa pertumbuhan otak (0-2 tahun) dapat mengakibatkan gangguan intelektual yang menetap.


















ASUHAN KEPERAWATAN
PADA ANAK CHILD ABUSE

Ø  Insiden Pada Anak Child Abuse
Sering kita dengar terjadinya penganiayaan/perlakuan salah terhadap anak, baik yang dilakukan oleh keluarga ataupun oleh pihak-pihak lain. Dalam bidang kedokteran sendiri, child abuse ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1860, di Perancis. Dimana 320 orang anak meninggal dengan kecurigaan akibat perlakuan yang salah.
Memang sangat sukar kita percayai bahwa seseorang anak yang seharusnya menjadi tempat curahan kasih sayang dari orang tua dan keluarganya, malah mendapatkan penganiayaan sampai harus dirawat di Rumah Sakit ataupun sampai meninggal dunia.
Insidennya :
1. Hampir 3 juta kasus penganiayaan fisik dan seksual pada anak terjadi pada tahun 1992
2. Sebanyak 45 dari setiap 100 anak dapat mengalami penganiayaan
3. Lebih dari 100 anak meninggal setiap tahunnya karena penganiayaan dan pengabaian
4. Penganiayaan seksual paling sering terjadi pada anak perempuan, keluarga tiri, anak-anak yang tinggal dengan satu orang tua atau pria yang bukan keluarga
Di Indonesia ditemukan 160 kasus penganiyaan fisik,72 kasusu penganiyaan mental,dan 27 kasus penganiyaan seksual ( diteliti oleh Heddy Shri Ahimsa Putra,Tahun 1999 ). Sedangkan menurut YKAI didapatkan data pada tahun 1994 tercatat 172 kasus, tahun 1995 meningkat menjadi 421 dan tahun 1996 menjadi 476 kasus.
Setiap negara bagian mempunyai undang-undang yang menjelaskan tanggung jawab legal untuk melaporkan jika terdapat kecurigaan penganiayaan anak. Kecurigaan penganiayaan anak harus dilaporkan ke lembaga layanan perlindungan anak setempat. Pelapor yang diberi mandat untuk melapor adalah perawat, dokter, dokter gigi, dokter anak, psikologi dan ahli terapi wicara, peneliti sebab kematian, dokter, karyawan lembaga penitipan anak, pekerja layanan anak-anak, pekerja sosial, guru sekolah. Kegagalan seseorang untuk melaporkan orang tersebut didenda atau diberi hukuman lain, sesuai dengan status masing-masing.
Di Indonesia tanggung jawab pelaku pencederaan anak tertera dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang pasalnya berkaitan dengan jenis dan akibat pencederaan anak. Kemunculan Undang – undang no.23/2002 tentang Perlindungan Anak menjadi secercah cahaya untuk mengurangi terjadinya child abuse .
Ø  Defenisi
o   Child Abuse : tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973)
o   Child Abuse : perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
o   Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak
o   Sementara menurut U.S Departement of Health, Education and Wolfare memberikan definisi Child abuse sebagai kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual dan penelantaran terhadap anak dibawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, sehingga keselamatan dan kesejahteraan anak terancam.

Ø  Klasifikasi
Terdapat 2 golongan besar, yaitu :
1.      Dalam keluarga
o   Penganiayaan fisik, Non Accidental “injury” mulai dari ringan “bruiser – laserasi” sampai pada trauma neurologic yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun
o   Penelantaran anak/kelalaian, yaitu : kegiatan atau behavior yang langsung dapat menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya. Kelalaian dapat berupa :
a.       Pemeliharaan yang kurang memadai
Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan.
b.      Pengawasan yang kurang memadai
Menyebabkan anak gagal mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa
c.       Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan
Kegagalan dalam merawat anak dengan baik
d.      Kelalaian dalam pendidikan
Meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah
o   Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain
o   Penganiayaan seksual, mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada seseorang anak untuk mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan sexual yang nyata, sehingga menggambarkan kegiatan seperti : aktivitas seksual (oral genital, genital, anal atau sodomi) termasuk incest. (The Child Abuse & Prevention Act / Public Law 100-294).
2.      Di luar rumah.
Dalam institusi/lembaga, di tempat kerja, di jalan, di medan perang.

Ø   Aspek Hukum Pencederaan Anak di Indonesia
Peranan professional khususnya dari yang menangani, menolong, mengobati anak diduga akibat pencederaan anak, pelaporannya kepada yang berwajib dilindungi UU.
Dalam KUHP penerapan pasal-pasalnya tergantung dari jenis & akibat pencederaannya.
o   Pencederaan anak yang bersifat penganiayaan dan bersifat menimbulkan cidera fisik diterapkan dalam pasal 351 ayat 1 (ancaman hukuman penjara paling lama 2 tahun 8 bulan). Ayat 2 bila mengakibatkan luka-luka berat (ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun). Ayat 3 bila mengakibatkan mati (ancaman hukuman penjara paling lama 7 tahun)
o   Bagi orang tua sebagai pelaku pencederaan anak (fisik) hukuman dapat ditambah dengan sepertiga (pasal 356)
o    Bila pencederaan anak berupa penelantaran sehingga anak terlantar pasal 1 butir 7 tahun 1979, dapat kemungkinan diterapkan. Pasal 301 (ancaman hukuman pidana penjara paling lama 4 tahun). Pasal 304 (ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan). Pasal 306 ayat 1 bila mengakibatkan luka (ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun). Bagi orang tua sebagai pelaku ancaman pidana pada pasal 305 dan 306 dapat ditambah dengan 1/3 (pasal 307)
o   Pencederaan anak bersifat seksual
Pasal yang diterapkan pasal 287 (ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun). Pasal 290 butir 3 (ancaman pidana penjara paling lama 7 tahun). Orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani, maupun social (Pasal 9 UU No.4/1979), UU No. 12 tahun 2002 menjelaskan tentang penganiayaan fisik pada anak, Di Indonesia tanggung jawab pelaku pencederaan anak tertera dalam Kitab UU hukum pidana (KUHP) yang pasal-pasalnya berkaitan dengan jenis & akibat pencederaan anak.

Ø   Faktor-faktor penyebab
Faktor Sosiokultural Stress berasal dari anak
Stress keluarga
Stress berasal dari orang tua

Fisik berbeda
Mental berbeda
Temperamen berbeda
Tingkah laku berbeda
Anak angkat


Kemiskinan pengangguran mobilitas, isolasi, perumahan tidak memadai
Hubungan orang tua anak stress prenatal, anak yang tidak diharapkan premature, dll
Perceraian


Rendah diri
Waktu kecil mendapat perlakuan salah
Depresi
Harapan pada anak yang tidak realistis
Kelainan karakter/gangguan jiwa


Ø  Manifestasi Klinis
Akibat pada fisik anak
a.       Lecet, hematom, luka bekas gigitan, luka bakar, patah tulang, perdarahan retinaakibat dari adanya subdural hematom dan adanya kerusakan organ dalam lainnya.
b.      Sekuel/cacat sebagai akibat trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan saraf, gangguan pendengaran, kerusakan mata dan cacat lainnya.
c.       Kematian.
Akibat pada tumbuh kembang anak
Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah, pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal, yaitu:
a.       Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapat perlakuan salah.
b.      Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan, yaitu:
·         Kecerdasan
o   Berbagai penelitian melaporkan terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca, dan motorik.
o   Retardasi mental dapat diakibatkan trauma langsung pada kepala, juga karena malnutrisi.
o   Pada beberapa kasus keterlambatan ini diperkuat oleh tidak adanya stimulasi yang adekuat atau karena gangguan emosi.
·         Emosi
o   Terdapat gangguan emosi pada: perkembangan kosnep diri yang positif, atau bermusuh dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan hubungan sosial dengan orang lain, termasuk kemampuan untuk percaya diri.
o   Terjadi pseudomaturitas emosi. Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa, sedang yang lainnya menjadi menarik diri/menjauhi pergaulan. Anak suka ngompol, hiperaktif, perilaku aneh, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, tempretantrum, dsb.
·         Konsep diri
Anak yang mendapat perlakuan salah merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak dikehendaki, muram, dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi aktifitas dan bahkan ada yang mencoba bunuh diri.
·         Agresif
Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani, lebih agresifterhadap teman sebayanya. Sering tindakan egresif tersebut meniru tindakan orangtua mereka atau mengalihkan perasaan agresif kepada teman sebayanya sebagai hasil miskinnya konsep diri.
·         Hubungan sosial
Pada anak-anak ini sering kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa. Mereka mempunyai sedikit teman dan suka mengganggu orang dewasa, misalnya dengan melempari batu atau perbuatan-perbuatan kriminal lainnya.
·         Akibat dari penganiayaan seksual
Tanda-tanda penganiayaan seksual antara lain:
o Tanda akibat trauma atau infeksi lokal, misalnya nyeri perianal, sekret vagina, dan perdarahan anus.
o Tanda gangguan emosi, misalnya konsentrasi berkurang, enuresis, enkopresis, anoreksia, atau perubahan tingkah laku.
o Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya. Pemeriksaan alat kelamin dilakuak dengan memperhatikan vulva, himen, dan anus anak.
o Sindrom munchausen
o Gambaran sindrom ini terdiri dari gejala:
o Gejala yang tidak biasa/tidak spesifik
o Gejala terlihat hanya kalau ada orangtuanya
o Cara pengobatan oleh orangtuanya yang luar biasa
o Tingkah laku orangtua yang berlebihan
Ø  Evaluasi Diagnostik
Diagnostik perlakuan salah dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik yang teliti, dokumentasi riwayat psikologik yang lengkap, dan laboratorium. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
Penganiayaan fisik
Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak dapat berupa:
Luka memar, terutama di wajah, bibir, mulut, telinga, kepala, atau punggung.
Luka bakar yang patogomonik dan sering terjadi: rokok, pencelupan kaki-tangan dalam air panas, atau luka bakar berbentuk lingkaran pada bokong. Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven atau setrika.
Trauma kepala, seperti fraktur tengkorak, trauma intrakranial, perdarahan retina, dan fraktur tulang panjang yang multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda.
Trauma abdomen dan toraks lebih jarang dibanding trauma kepala dan tulang pada penganiayaan anak. Penganiayaan fisik lebih dominan pada anak di atas usia 2 tahun.
Pengabaian non organic failure to thrive, yaitu suatu kondisi yang mengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan anak yang seharusnya, tetapi respons baik terhadap pemenuhan makanan dan kebutuhan emosi anak.
Pengabaian medis, yaitu tidak mendapat pengobatan yang memadai pada anak penderita penyakit kronik karena orangtua menyangkal anak menderita penyakit kronik. Tidak mampu imunisasi dan perawatan kesehatan lainnya. Kegagalan yang disengaja oleh orangtua juga mencakup kelalaian merawat kesehatan gigi dan mulut anak sehingga mengalami kerusakan gigi.
Penganiayaan seksual
Tanda dan gejala dari penganiayaan seksual terdiri dari:
Nyeri vagina, anus, dan penis serta adanya perdarahan atau sekret di vagina.Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau encopresis.
Pubertas prematur pada wanita
Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan teman sebaya, binatang, atau objek tertentu. Tidak sesuai dengan pengetahuan seksual dengan umur anak serta tingkah laku yang menggairahkan.
tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri, perasaan takut pada orang dewasa, mimpi buruk, gangguan tidur, menarik diri, rendah diri, depresi, gangguan stres post-traumatik, prostitusi, gangguan makan, dsb.
Laboratorium
Jika dijumpai luka memar, perlu dilakuak skrining perdarahan. Pada penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan:
Swab untuk analisa asam fosfatase, spermatozoa dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual.Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk genokokus
Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B
Analisa rambut pubis
Radiologi
Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak, yaitu untuk:
a.       Identifiaksi fokus dari jejas
b.      Dokumentasi
Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaan fisik.
CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma kepala yang berat.MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid.Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral. Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual.
Ø  Penatalaksanaan
Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak adalah melalui:
Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan pada individu, keluarga, dan masyarakat. Prevensi primer-tujuan: promosi orangtua dan keluarga sejahtera.
·         Individu
o   Pendidikan kehidupan keluarga di sekolah, tempat ibadah, dan masyarakat
o   Pendidikan pada anak tentang cara penyelesaian konflik
o   Pendidikan seksual pada remaja yang beresiko
o   Pendidikan perawatan bayi bagi remaja yang merawat bayi
o   Pelayanan referensi perawatan jiwa
o    Pelatihan bagi tenaga profesional untuk deteksi dini perilaku kekerasan.
·         Keluarga
o   Kelas persiapan menjadi orangtua di RS, sekolah, institusi di masyarakat
o   Memfasilitasi jalinan kasih sayang pada orangtua baru
o   Rujuk orangtua baru pada perawat Puskesmas untuk tindak lanjut (follow up)
o   Pelayanan sosial untuk keluarga
·         Komunitas
o   Pendidikan kesehatan tentang kekerasan dalam keluarga
o   Mengurangi media yang berisi kekerasan
o   Mengembangkan pelayanan dukungan masyarakat, seperti: pelayanan krisis, tempat penampungan anak/keluarga/usia lanjut/wanita yang dianiaya
o   Kontrol pemegang senjata api dan tajam
·         Prevensi sekunder-tujuan: diagnosa dan tindakan bagi keluarga yang stress
Individu Pengkajian yang lengkap pada tiap kejadian kekerasan pada keluarga pada tiap pelayanan kesehatan
Rencana penyelamatan diri bagi korban secara adekuat
o   Pengetahuan tentang hukuman untuk meminta bantuan dan perlindungan
o   Tempat perawatan atau “Foster home” untuk korban
·          Keluarga
o   Pelayanan masyarakat untuk individu dan keluarga
o   Rujuk pada kelompok pendukung di masyarakat (self-help-group). Misalnya: kelompok pemerhati keluarga sejahtera
o   Rujuk pada lembaga/institusi di masyarakat yang memberikan pelayanan pada korban
·         Komunitas
o   Semua profesi kesehatan terampil memberikan pelayanan pada korban dengan standar prosedur dalam menolong korban
o   Unit gawat darurat dan unit pelayanan 24 jam memberi respon, melaporkan, pelayanan kasus, koordinasi dengan penegak hukum/dinas sosial untuk pelayanan segera.
o   Tim pemeriksa mayat akibat kecelakaan/cedera khususnya bayi dan anak.
o   Peran serta pemerintah: polisi, pengadilan, dan pemerintah setempat
o   Pendekatan epidemiologi untuk evaluasi
o   Kontrol pemegang senjata api dan tajam
Prevensi tertier-tujuan: redukasi dan rehabilitasi keluarga dengan kekerasan
·         Individu
o   Strategi pemulihan kekuatan dan percaya diri bagi korban
o   Konseling profesional pada individu
o   Keluarga
o   Reedukasi orangtua dalam pola asuh anak
o    Konseling profesional bagi keluarga
o   Self-help-group (kelompok peduli)
·         Komunitas
o   “Foster home”, tempat perlindungan
o   Peran serta pemerintah
o   “follow up” pada kasus penganiayaan dan kekerasan
o    Kontrol pemegang senjata api dan tajam
Pendidikan
Sekolah mempunyai hak istimewa dalam mengajarkan bagian badan yang sangat pribadi, yaitu penis, vagina, anus, mammae dalam pelajaran biologi. Perlu ditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harud dijaga agar tidak diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkan keamanan anak di sekolah. Sikap atau cara mendidik anak juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi aniaya emosional. Guru juga dapat membantu mendeteksi tanda2 aniaya fisik dan pengabaian perawatan pada anak.
Penegak hukum dan keamanan
Hendaknya UU no.4 thn 1979, tentang kesejahteraan anak cepat ditegakkan secara konsekuen. Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan dan kekerasan. Bab II pasal 2 menyebutkan bahwa “anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.
Media massa
Pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendaknya diikuti oleh artikel2 pencegahan dan penanggulangannya. Dampak pada anak baik jangka pendek maupun jangka panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan.



PROSES KEPERAWATAN PADA ANAK CHILD ABUSE
     I.   PENGKAJIAN
Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitan dengan child abuse, antara lain:
Psikososial
1.      Melalaikan diri (neglect), baju dan rambut kotor, bau
2.       Gagal tumbuh dengan baik
3.      Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif, psikomotor, dan psikososial
4.      With drawl (memisahkan diri) dari orang2 dewasa
Muskuloskeletal
1.      Fraktur
2.      Dislokasi
3.      Keseleo (sprain)
Genito Urinaria
1.      Infeksi saluran kemih
2.      Perdarahan per vagina
3.      Luka pada vagina/penis
4.       Nyeri waktu miksi
5.       Laserasi pada organ genetalia eksternal, vagina, dan anus.
Integumen
1.      Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok)
2.      Luka bakar pada kulit, memar dan abrasi
3.      Adanya tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan
4.       Bengkak

  II.   Diagnosa keperawatan
Dx Keperawatan
a.       Kerusakan pengasuhan b.d. usia muda terutama remaja, kurang pengetahuan mengenai pemenuhan kesehatan anak dan ketidakadekuatan pengaturan perawatan anak.
b.      Kapasitas adaptif: penurunan intracranial b.d cedera otak
c.       Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan memasukkan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan karena faktor psikologis.
d.      Resiko keterlambatan perkembangan b.d kerusakan tak akibat kekerasan.

III.   Intervensi
Dx I: Kerusakan pengasuhan b.d. usia muda terutama remaja, kurang pengetahuan mengenai pemenuhan kesehatan anak dan ketidakadekuatan pengaturan perawatan anak.
NOC: Setelah dilakukan asuhan keperawatan maka orangtua akan menujukan disiplin yang konstruktif, mengidentifikasi cara yang efektif untuk mengungkapkan marah atau frustasi yang tidak membahayakan anak, berpartisipasi aktif dalam konseling dan atau kelas orangtua.
Intervensi:
o   Dukung pengungkapan perasaan
o   Bantu orangtua mengidentifikasi deficit atau perubahan menjadi orangtua
o   Berikan kesempatan interaksi yang sering untuk orangtua atau anak
o   Keterampilan model peran menjadi orangtua
Dx II: Kapasitas adaptif: penurunan intracranial b.d cedera otak
NOC: Setelah dilakukan asuhan keperawatan maka klien akan menunjukkan peningkatan kapasitas adaptif intrakranial yang ditunjukkan dengan keseimbangan cairan, keseimbangan elektrolit dan asam-basa. Status neurologis, dan status neurologis: kesadaran.
Intervensi:
o   Pantau tekanan intrakranial dan tekanan perfusi serebral
o   Pantau status neurologis pada interval yang teratur
o   Perhatikan kejadian yang merangsang terjadinya perubahan pada gelombang TIK
o   Tentukan data dasar tanda vital dan irama jantung dan pantau perubahan selama dan sesudah aktivitas
o   Ajarkan pada pemberi perawatan tentang tanda2 yang mengindikasikan peningkatan TIK (misalnya: peningkatan aktivitas kejang)
o   Ajarkan pada pemberi perawatan tentang situasi spesifik yang merangsang TIK pada klien (misalnya: nyeri dan ansietas); diskusikan intervensi yang sesuai.

Dx III: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan memasukkan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan karena faktor psikologis.
NOC: Setelah dilakukan asuhan keperawatan maka klien akan menunjukkan status gizia; asupan makanan, cairan, dan gizi, ditandai dengan indicator berikut (rentang nilai 1-5: tidak adekuat, ringan, sedang, kuat, atau adekuat total).
Makanan oral, pemberian makanan lewat selang, atau nutrisi parenteral total. Asupan cairan secara oral atau IV
Intervensi:
o   Identifikasi faktor2 yang dapat berpengaruh terhadap hilangnya nafsu makan pasien
o   Pantau nilai laboratorium, khususnya transferin, albumin dan elektrolit
o   Pengelolaan nutrisi: ketahui makanan kesukaan klien, pantau kandungan nutrisi dan kalori pada cetakan asupan, timbang klien pada interval yang tepat
o   Ajarkan metode untuk perencanaan makanan
o   Ajarkan klien/keluarga tentang makanan bergizi dan tidak mahal
o   Pengelolaan nutrisi: berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.

Dx IV: Resiko keterlambatan perkembangan b.d kerusakan tak akibat kekerasan.






DAFTAR PUSTAKA

1.      Maramis WF. Retardasi Mental dalam Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press, Surabaya, 1994. Hal: 385-402
2.      Sadock BJ, Sadock VA. Mental Retardation in Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry, Lippincott & William, London. p:1161-79
3.      Maslim R. Retardasi Mental.dalam Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa-Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. Jakarta. Hal.119-21
4.      http://www.emedicine.com. Accessed on June,14 2005.
5.      www.sekeluarga.com
6.      http://nersqeets.blogspot.com/2009/06/askep-child-abuse.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar